Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Musuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musuk. Tampilkan semua postingan

Peluang Usaha Budidaya Krisan di Desa Mriyan Boyolali

Written By Boyolalikita on Selasa, 28 Maret 2017 | 19.38.00

ilustrasi
Desa Mriyan, Kecamatan Musuk, Boyolali yang berada di kaki Gunung Bibi, lereng sisi timur Gunung Merapi dikenal sebagai penghasil bunga mawar tabur.
Sejak akhir tahun lalu, desa ini merintis budidaya krisan, bunga potong yang memiliki nilai jual tinggi. Krisan yang bernama latinChrysanthemum indicum itu rupanya cocok dibudidayakan di Desa Mriyan.
Hawa dingin di wilayah tersebut memungkinkan seruni, nama lain bunga itu, untuk bertumbuh. Kepala Desa Mriyan, Suwandi, mengatakan saat ini pihaknya baru memiliki kebun percontohan krisan dengan populasi 8.000 batang. Ribuan batang itu menjadi tanggungjawab kelompok wanita tani (KWT) Sekar Dewani.
Budidaya krisan di Desa Mriyan merupakan wujud kerjasama sosial salah satu perusahaan air minum di Klaten. Selain kebun percontohan, bibit krisan juga dikembangkan oleh puluhan warga di rumah masing-masing. Ini baru proyek rintisan karena ke depan kami ingin mengembangkannya ke arah desa wisata,” kata dia, saat dijumpai Solopos.com di rumahnya, Selasa (21/3/2017).
Nilai Jual
Suwandi memaparkan warga memilih budidaya krisan karena tertarik dengan nilai jualnya yang tinggi. Mereka juga tak perlu bersusah mencari pengepul untuk memasarkan hasil panen karena sudah memiliki kontak dengan pengusaha bunga. “Per batang krisan nantinya dijual senilai Rp4.000 – Rp8.000,” ungkapnya.
Saat ini, ribuan batang krisan tersebut telah berumur 13 pekan. Dua pekan lagi atau pada pekan ke-15, tanaman itu sudah dapat dipanen.Suwandi mengatakan, selain krisan, warga juga mendapat bantuan bibit mawar potong. Berbeda dengan mawar tabur, mawar potong lebih tahan lama dan dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan karangan bunga maupun dekorasi.
“Ada 50an batang mawar potong berbagai warna yang baru berumur 7 pekan.Untuk mawar kami tidak memiliki tantangan berarti karena sudah menjadi santapan harian. Sedangkan krisan, karena belum berpengalaman, warga jadi banyak belajar,” papar dia.Suwardi berharap rintisan budidaya bunga tersebutbisa menjadi daya tarik tambahan saat menyambangi Desa Mriyan.
Desa yang berjarak 15 KM dari Boyolali kota ini memiliki potensi alam yang menjanjikan. Selain berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Merapi, terdapat destinasi menantang lain seperti tebing ekstrim dan grojogan indah Suroloyo. Deretan objek wisata itu masih ditambah bumi perkemahan dan instalasi bambu menarik di titik yang berjarak 4,5 KM dari puncak Merapi itu. 

Pengembangan Ekowisata bunga Mawar di Mriyan Musuk

Written By Boyolalikita on Rabu, 01 Maret 2017 | 22.34.00

Pemerintah Desa Mriyan, Kecamatan Musuk, Boyolali tengah mengembangkan kampung wisata berbasis pelestarian lingkungan alam. Desa yang dikenal sebagai penghasil komoditas pertanian bunga mawar ini menyimpan potensi alam yang masih perawan di kaki Gunung Bibi atau di sisi timur puncak Merapi.
Kepala Desa Mriyan Suwandi mengatakan, pengembangan desa ekowisata ini nantinya akan mengeksplorasi potensi alam desa yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Sebagai langkah awal, pihaknya sudah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

"Pertama yang kita andalkan pemandangan alamnya. Karena Mriyan ini berjarak 4,5 kilometer dari puncak Merapi, masih banyak potensi alam yang masih asri masuk di wilayah TNGM. Seperti tebing ekstrim gupit, batu lapak (watu jodo), batu apit, dan grojogan indah Suroloyo. Apalagi warga sepakat untuk menolak masuknya galian C," kata Suwandi, Rabu (1/3).
Jumlah penduduk Desa Mriyan mencapai 2439 jiwa atau 816 Kepala Keluarga yang tersebar di 14 dukuh. Mereka mengandalkan pertanian tembakau dan sayur mayur sebagai penghasilan sehari-hari.
Selain itu, sejak puluhan tahun Desa Mriyan juga dikenal sebagai penghasil bunga mawar. Maka jika memasuki desa berjarak sekitar 17 kilometer dari pusat kota Boyolali itu akan disuguhi pemandangan aneka warna Mawar di depan halaman rumah warga.
Menurut Suwandi, selama ini hasil panen bunga mawar untuk memasok kebutuhan masyarakat di Solo raya dan Yogyakarta menjelang tradisi Sadranan. Sebuah tradisi ziarah makam yang dilaksanakan menjelang bulan Ramadhan.
Guna mendukung konsep ekowisata, pihaknya juga mengembangkan budidaya bunga Krisan yang dikelola Kelompok Wanita Tani (KWT) Dukuh Montong.
"Baru 8 pekan kita coba budidayakan. Sebanyak 8.000 bibitnya kita datangkan dari seseorang warga Sleman. Jika sudah berbunga, dia siap menampung dan memasarkannya. Siapa tahu bunga Krisan ini bisa meningkatkan pendapatan ekonomi warga," ujar dia.
Perwakilan KWT Dukuh Montong, Sutarti (28) menambahkan, percobaan budidaya Krisan itu dikelola oleh 23 orang. Secara terjadwal, tiap pagi mereka bergiliran untuk menyiram. Sedangkan setiap hari Rabu mereka berkumpul untuk melakukan penelitian. Di antaranya, mengukur ketinggian batang, daun, hingga memberantas gulma.
"Kalau Krisan ini lebih mahal harga jualnya dibandingkan bunga mawar tabur. Biasanya digunakan untuk dekorasi maupun karangan bunga. Yang kita tanam ada warna kuning, putih, dan pink. Nanti kalau percobaan ini berhasil akan kita tanam lebih banyak lagi," bebernya.

Hmmm...20% Perempuan di Musuk Terkena Kanker Leher Rahim

Written By Boyolalikita on Rabu, 22 Februari 2017 | 23.09.00

Sebanyak 20%, atau tujuh dari 35 perempuan dari sejumlah desa di Kecamatan Musuk Boyolali terkena kanker leher rahim. Dinas Kesehatan Boyolali didorong untuk memperbanyak layanan kesehatan di tingkat desa dan kecamatan yang mampu memeriksa dan mencegah penyakit tumor ganas pembunuh kaum ibu ini.

Demikian dilansir Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (Spek-HAM) seusai melakukan pemeriksaan 35 perempuan dari sejumlah desa di Puskemas Musuk, Jumat (17/2/2017) lalu.

Dalam pemeriksaan itu, kaum perempuan di Kecamatan Musuk menjalani pemeriksaan reproduksi dengan metode inspeksi visual asam asetat (IVA tes).
Hasilnya, tujuh orang atau sekitar 20% positif terkena kanker leher rahim tahap awal. Sementara, sembilan perempuan lainnya hanya terkena gangguan kesehatan reproduksi, seperti keputihan.
“Spek-HAM sengaja melakukan IVA tes karena kanker leher rahim merupakan kanker pembunuh perempuan nomor satu di dunia. Inilah sebabnya, kami anggap tes ini sangat penting,” ujar pegiat Spek-HAM Solo, Rahayu Purwa kepada Solopos.com, Minggu (19/2/2017).
Rahayu mengatakan IVA tes merupakan metode sederhana dan murah untuk mendeteksi dini ada tidaknya penyakit kanker leher rahim. Metode tes ini bahkan bisa dijalankan di puskesmas terdekat. Meski demikian, kata dia, tak banyak puskesmas di Boyolali yang telah menyediakan layanan tes ini.
“Itulah sebabnya, kami terus mendorong agar dinkes memperbanyak layanan IVA tes di puskesmas-puskemas agar masyarakat mudah mengaksesnya. Lebih baik kan mencegah dari pada mengobati,” jelasnya.
Menurut Rahayu, kendala utama IVA tes adalah masih kuatnya budaya malu di lingkungan perempuan, khususnya di desa-desa dalam memeriksakan organ reproduksi mereka. Hal inilah yang membuat upaya deteksi dini kanker leher rahim belum berjalan optimal.
“Rata-rata kaum perempuan, khususnya di desa-desa, malu saat diperiksa organ reproduksi mereka. Makanya, Spek-HAM terus mengampanyekan pentingnya pemeriksaan ini sebagai upaya pencegahan kematian kaum perempuan karena kanker leher rahim,” tambahnya.
Petugas medis fungsional di Puskemas Musuk, dr. Retno Setyaningsih, mengatakan IVA tes sangat penting untuk mencegah penyakit mematikan itu. Menurutnya, kampanye IVA tes saat ini masih harus digalakkan di pelosok-pelosok desa dengan melibatkan semua komponen masyarakat serta instansi terkait.
“Jangan sampai penyakit ini baru terdeteksi setelah bersarang 10-15 tahun kemudian. Kalau sudah terdeteksi dini, penyakit ini bisa disembuhkan. Ini semua demi peningkatan kualitas hidup masyarakat,” paparnya.

Minibus Angkut 10 Jirigen Pertalite ini Tiba-tiba Meledak dan Gegerkan Warga

Written By Boyolalikita on Kamis, 19 Januari 2017 | 23.27.00

Warga Dusun/Desa Puspurenggo, RT 02, RW 02, Kecamatan Musuk, Boyolali Kamis pagi (19/1) mendadak gempar. Sebuah minibus Suzuki Carry nopol B 3308 UV mengangkut Pertalite dalam 10 jirigen melintas Jalan Raya Boyolali-Musuk ludes terbakar. Diduga kebakaran minibus yang mengangkut 300 liter BBM jenis Pertalite ini dipicu hubungan arus pendek di mobil.
 Peristiwa terjadi sekitar pukul 09.40 WIB. Saat itu, pengemudi minibus, Joko Yunan, 26, warga Karangpodang Desa Keposong, Kecamatan Musuk sedang melajukan mobilnya menuju ke SPBU mini milik Juwandi, yang berlokasi di Desa Pusporenggo. Belum sampai tujuan, Joko tiba-tiba merasakan ada hawa panas tepat di bawah setir mobil.
Saat melongok ke bawah, dia melihat adanya percikan api. Lama-kelamaan, percikan api membesar. Khawatir menyambar bahan bakar yang diangkutnya, Joko seketika membuka pintu dan loncat ke jalan. Membiarkan mobilnya tetap melaju hingga masuk parit dan menabrak tiang listrik.
Sejurus kemudian, Joko mendengar ledakan dari dalam mobil. Ledakan diduga dipicu dari 10 jeriken Pertalite yang tersambar percikan api. Api pun dengan cepat membesar dan melahap seluruh bodi mobil.
Dwi, 35, warga setempat yang menyaksikan kejadian mengakui sopir minibus sempat loncat sebelum ledakan terjadi. “Sopirnya sendirian. Tadi tiba-tiba saya lihat sopirnya lari keluar mobil disusul suara ledakan tiga kali. Bagian mobil yang kali pertama terbakar bagian belakang. Apinya besar sekali membumbung tinggi kira-kira 5 meter,” terangnya kepada Radar Boyolali.
Tak hanya minibus, api yang membesar sempat membakar kabel listrik dan beberapa pohon di lokasi tersebut. Saking besarnya api, warga sekitar tidak ada yang berani mendekat. Kejadian ini tak ayal sempat membikin kemacetan panjang di ruas jalan tersebut.
“Saat tahu kabel listrik terbakar, saya langsung lari ke rumah. Saya matikan arus listrik di rumah supaya tidak merembet,” beber Dwi.
Tak berselang lama, tiga mobil pemadam kebakaran (damkar) datang ke lokasi untuk membantu memadamkan api. Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Musuk, Bripka Teguh menyampaikan, berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran dipicu hubungan arus pendek listrik. Api lantas merembet ke bagian belakang yang mengangkut BBM.
“Beruntung tidak ada korban jiwa. Sopir selamat, hanya kerugian material, mobil, dan 300 liter bahan bakar,” jelas Teguh. JP

Budaya Musuk : Warga Musuk Sempat Mengira Keberadaan Candi Hanya Mitos

Written By Boyolalikita on Rabu, 26 Oktober 2016 | 20.16.00

Penemuan tumpukan lempeng batu yang diduga situs candi di lokasi penggalian embung Desa Ringinlarik, Kecamatan Musuk segera diteliti Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.

Sementara informasi yang beredar di masyarakat, lokasi tersebut dahulu memang terdapat dua buah candi.

Pantauan di lokasi penggalian embung di Dukuh Kebonluwak, puluhan batu berbagai bentuk sudah dipindah sekitar 50-an meter dari lokasi temuan, Senin (1/8/2016). Sementara sisa-sisa reruntuhan yang lainnya masih berserakan di titik temuan. Ukurannya pun beragam, namun rata-rata panjangnya satu meter.

Ini Lhoo. salah satu situs-situs di Kecamatan Musuk

Keberadaannya Situs Musuk masih satu kompleks dengan situs Jambersari, yang tata letaknya tidak terlalu berjauhan. di situs yang berlokasi di Jalan Pemuda Desa Musuk, Kecamatan Musuk, Boyolali, Jawa Tengah ini, tergeletak beberapa benda cagar budaya. BCB yang ada di Situs inipun hanya tinggal menyisakan, beberapa komponen bangunan candi, yang diperkirakan sudah terbangun sejak abad ke 9 lalu. situs ini tepat berada di belakang SMP 1 Musuk, yang tepatnya berada di tengah perkebunan warga.


yoni

Menengok dari letaknya, besar kemungkinan situs candi yang ada di Situs Kota Musuk, masih memiliki keterkaitan dnegan situs-situs disekitarnya. seperti situs-situs di Kecamatan Cepogo. seperti Candi Lawang, Situs candi Sari, Situs Cabean Kunti, Situs Sumur Songo, Situs Napak Noto hingga Situs Jelok.

Didalam area situs ini berada, kini masih bisa ditemukkan beberapa komponen bangunan candi. mulai dari batu penyusun, antefik, lingga semu hingga sebuah Yoni. melihat dari keberadaan Yoni tersebut, bisa dipastikkan situs ini adalah bangunan yang dibangun sebagai peribadatan umat Hindu pada jaman dulu. Yoni yang berada di situs inipun bentuknya masih bisa dikenali, sayang lingga yang biasa berdampingan dengan perlambangan Siwa ini kini telah hilang. selain itu, cerat yoni tersebut telah patah, besar kemungkinan ada seseorang pada dahulu kala yang sudah merusakknya.

Tidak banyak literatur yang menceritaakan lebih jelas soal asal muasal situs ini, kapan dibangun pastinya, ataupun seperti apa bentuk asli ini ketika dulu masih berdiri kokoh. dari mulut warga sekitarpun, terceletuk sebuah penjelasan pasti bahwa ternyata beberap arca disitus ini, kini diamankan di penampungan arca  Kridanggo. termasuk beberapa arca dan batu batu berlerif dari situs ini, situs jambersari dan juga Situs Candi Musuk.

Menengok dari letaknya, besar kemungkinan situs candi yang ada di Situs Kota Musuk, masih memiliki keterkaitan dnegan situs-situs disekitarnya. seperti situs-situs di Kecamatan Cepogo. seperti Candi Lawang, Situs candi Sari, Situs Cabean Kunti, Situs Sumur Songo, Situs Napak Noto hingga Situs Jelok. sumbernya kii

Potensi Musuk : Menyulap Bunga Mawar menjadi Teh, Sirup dan Es Krim

Bunga mawar adalah komoditas utama petani di wilayah Musuk. Sedikitnya ada empat desa penghasil mawar, yakni Cluntang, Mriyan, Kembangsari, dan Sruni.
Sayangnya, selama ini masyarakat Musuk tidak banyak memanfaatkan bunga mawar selain hanya untuk bunga tabur di kuburan maupun untuk ritual pernikahan. Saat sepi upacara adat, harga mawar jatuh menjadi Rp1.000/kilogram. Saat musim Sadranan, harga mawar naik jadi Rp3.000/kilogram.
Saat harga mawar jatuh, masyarakat tidak mau memanen bunganya hingga akhirnya dibiarkan layu dan busuk. Potensi ini menjadi bahan bagi pelaku UKM dan industri kreatif, Hendrati Sri Kristyaningsih, untuk berkreasi.
Sejak setahun lalu, Hendrati bersama petani mawar di Desa Cluntang, Kecamatan Musuk mulai berpikir agar mawar bisa dimanfaatkan dengan nilai ekonomi yang lebih baik. Mereka berpikir membuat teh mawar. Dia pun belajar tentang kandungan senyawa bunga mawar.
Di media Internet dan Youtube, dia tidak mendapatkan referensi yang memuaskan tentang pembuatan teh mawar. “Konon di Jepang ada teh kuncup mawar. Memang ada, saya temukan di Youtube tapi tidak ada cara pembuatannya. Akhirnya saya berpikir terus dan mencoba membuat teh mawar sama seperti cara membuat teh dari daun teh pada umumnya,” kata Hendrati, sebagimana dicopas dari Solopos.com, di kediamannya di Singkil,Boyolali Kota, belum lama ini.
Tidak semua bagian bunga mawar bisa dimanfaatkan. Yang bisa dimanfaatkan hanya bagian petal yakni daun bunganya yang berwarna merah sedangkan kelopak bunga dibuang karena menimbulkan rasa pahit.
Petal mawar dilayukan minimal selama dua hari dua malam. Setelah kering, petal digiles meggunakan tangan sampai petal mawar mengeluntung. Ada teknik khusus menggilas petal mawar kering agar tidak rusak dan pecah. Setelah itu didiamkan lagi selama dua malam, dan terakhir digoreng sangrai, menggunakan wajan kuali agar tidak mudah gosong.
“Selesai.Tidak ada campuran apapun, hanya mawar. Aromanya seperti minuman teh pada umumnya namun sedikit ada rasa sepet. Teh mawar bisa diseduh bersama dengan madu atau lemon sesuai selera,” ujar dia.
Kreasi teh mawar kini sedang dikembangkan kelompok tani di Desa Cluntang, Musuk. Meskipun caranya cukup mudah namun petani di Desa Cluntang rupanya harus berlatih berkali-kali agar hasilnya lebih maksimal. “Kebetulan budi daya utama masyarakat Cluntang adalah mawar. Sedikitnya ada 50 hektare lebih lahan yang digunakan untuk budidaya mawar,” kata petani asal Dukuh Bendolegi, Desa Cluntang, Suranto.
Kelompok wanita di Cluntang kini sedang belajar agar bisa memproduksi teh mawar lebih banyak lagi. “Setelah berhasil memproduksi, bapak-bapak dan ibu-ibu di Polsek Musuk jadi pelanggan pertama kami,” ujar dia.
Untuk saat ini, teh mawar dijual dengan harga Rp6.000 hingga Rp7.000 per 50 gram tanpa kemasan. Hendrati bersama petani Cluntang sudah membuat produk teh mawar yang dikemas agar nilai jualnya lebih tinggi.
Selain teh mawar, mereka juga berkreasi membuat sirup mawar dan es krim mawar. Mereka cukup mengambil sari mawar sebagai bahan utama. “Sirup mawar dibuat hanya dengan mengambil sari mawar dengan cara direbus dengan air, tambahkan gula pasir dan sedikit garam serta citrid acid, dan untuk kekentalan saya tambahkan rumput laut.”
Sama halnya dengan es krim, tinggal mengambil sari mawar saat susu sapi itu direbus. Kemudian di olah seperti membuat es krim pada umumnya. “Satu liter susu dan 200 gram mawar bisa jadi 4 kotak es krim, satu kotak saya jual Rp35.000,” imbuh Hendrati.
Hendrati mencoba mengonsumsi produk olahannya sendiri sebelum akhirnya dipasarkan. “Setelah minum teh mawar ini seperti ada aroma relaksasi karena manfaat mawar cukup banyak. Bisa sebagai sumber antioksidan, mengandung vitamin E, D, C, B3 A serta asam sitrat. Melancarkan sirkulasi darah, anti radang dan menetralisir racun.”
Penderita tekanan darah tinggi bisa mengurangi ketergantungan terhadap obat kimia jika rutin meminum teh mawar.
Saat ini, permintaan teh mawar mulai berdatangan dari berbagai kota besar. Sayangnya, mereka masih menemui kendala mengingat proses pembuatannya masih dilakukan manual. Mereka belum memiliki alat pengering mawar di satu sisi saat ini kondisi cuaca sering tidak mendukung.

Ketika Tambang Pasir Mulai ditinggalkan penambangnya...mengerikan !!!

Written By Boyolalikita on Senin, 24 Oktober 2016 | 23.14.00

ilustrasi
Sejumlah areal penambangan galian C di wilayah Kecamatan Musuk, kini dibiarkan mangkrak. Penyebabnya, para penambang kabur, adapun lahan dibiarkan tanpa reklamasi. ”Lahan dibiarkan mangkrak, karena ditinggal para penambang saat digelar razia petugas,” kata Kades Jemowo, Untung Widodo.
Diakui, dirinya banyak mendapat masukan atau laporan warga maupun sesama kades di Musuk, terkait mangkraknya areal bekas galian C. Selain di Dukuh Sidorejo, Desa Jemowo, juga di beberapa desa lain, seperti Desa Karangkendal, Lanjaran, dan Karanganyar. ”Lahan jadi mangkrak dan tak bisa ditanami. Penambang sudah keburu kabur, karena takut terjaring petugas.” Dia berharap, kondisi penambangan galian C di Dukuh Gendulan, Desa Jemowo, bisa menjadi contoh.

Lahan di kawasan tersebut, direklamasi kembali setelah kegiatan penambangan selesai, sehingga lahan bisa ditanami kembali oleh petani pemilik tanah. Diakui, posisi kepala desa dalam kondisi dilematis. ”Saya atas nama kepala desa, dalam posisi tidak berdaya. Kalau saya mengizinkan penambangan, berarti kades melanggar regulasi.” Pihaknya berharap, ada solusi dari instansi terkait.
Dia menilai, mangkraknya lahan bekas penambangan imbas dari kegiatan penambangan ilegal. Pelaku nekat beraksi tanpa izin untuk mengambil pasir. ”Ini memang dilematis. Jika diteruskan, berarti mendukung kegiatan yang melanggar aturan. Jika dibiarkan saja, lahan menjadi mangkrak dan tak bisa ditanami.”
Berharap Solusi
Dia berharap, instansi terkait tidak hanya menindak semata. Namun, juga bisa memberikan solusi jangka pendek, menengah, dan jangka panjang terhadap lahan-lahan sisa penambangan ilegal tersebut.”Bagaimana pun penambangan harus tetap ada, karena hanya aset itu yang bisa diolah.” Tetapi, penambang juga harus memikirkan upaya untuk meminimalkan dampak kegiatan penambangan yang dia lakukan. Antara lain, dampak terhadap kerusakan jalan, dan fasilitas umum, serta upaya reklamasi lahan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Sumber Daya Mineral (DPU dan ESDM), M Qodri, belum bisa dihubungi. Demikian pula Kabid ESDM, Eko Dodi Apriyanto. ”Maaf, saya masih tugas luar. Nanti kalau sudah sampai kantor, bisa saya sampaikan,” ungkap Dodi Apriyanto saat dihubungi melalui ponselnya.  sm

Warga Kembangsari, Musuk Tolak Pembangunan Embung

Written By Boyolalikita on Minggu, 16 Oktober 2016 | 22.19.00

 Forum Warga Peduli Lingkungan yang beranggotakan warga Desa Kembangsari, Musuk, menolak rencana pembangunan proyek embung yang akan dibangun Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Boyolali. Warga menolak pembangunan embung karena menganggap proyek tersebut hanya sebagai kedok aktivitas galian C.
 “Warga dan Forum sepakat membuat surat pernyataan penolakan, Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa akhirnya ikut menyetujui,” kata Koordinator Forum Warga Peduli Lingkungan Desa Kembangsari, Sehono, Selasa (11/10).

Diakui, PUDAM Boyolali sudah beberapa kali melakukan sosialisasi terkait proyek embung Kembangsari. Namun,warga tetap menolak. Menurut Sehono, pihaknya mendapat informasi dari kontraktor, proyek yang dijalankan tidak hanya untuk pembangunan embung namun juga galian C.
Embung sendiri akan dibangun di atas tanah kas desa seluas 4,5 hektare. Pihak  pelaksana proyek sudah mulai memangkas pohon-pohon besar di lahan tersebut. Selama ini,tanah kas desa tersebut termasuk tanah subur yang disewa puluhan petani di Desa Kembangsari untuk budidaya sayuran, cabai, jagung, dan tembakau. Setidaknya ada 35 warga yang menyewa lahan tersebut.
“Warga juga tidak mau kehilangan mata pencaharian, sehingga warga tetap menolak embung ataupun galian C,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur PUDAM Boyolali Cahyo Sumarso, mengakui adanya penolakan dari warga Kembangsari. Terkait penolakan tersebut, pembangunan embung akan di alihkan ke Banyuanyar, Ampel. Terkait, anggapan adanya aktivitas galian C di lokasi proyek, Cahyo membantahnya.
“Tidak benar itu, tapi kalau memang masyarakat tidak butuh embung, kita alihkan,” tandasnya.

Kecamatan Musuk Dibagi Dua, Ini Pembagian Desanya

Written By Boyolalikita on Rabu, 06 April 2016 | 18.46.00

 Pemerintah Kecamatan Musuk, Boyolali terus melakukan sosialisasi terkait rencana pemekaran wilayah. Sosialisasi sekaligus digunakan untuk menjaring aspirasi masyarakat terkait rencana tersebut.
“Kita terus lakukan sosialisasi, warga sendiri berharap pemekaran bisa segera dimatangkan,” kata Camat Musuk, Totok Eko YP, Rabu (6/4).
Dijelaskan, nantinya Kecamatan Musuk akan dibagi menjadi dua wilayah. Dimana masing-masing terdiri dari 10 desa, saat ini Kecamatan Musuk memiliki 20 desa. Meski belum ada keputusan resmi, namun dimungkinkan kecamatan lama tetap akan berada di Desa Musuk seperti saat ini. Ditambah 9 desa yaitu, Sukorame, Pusporenggo, Kebangsari, Pagerjurang, Kebongulo, Sukorejo, Ringinlarik, Clunthang dan Mriyan.

Sedangkan untuk wilayah di sisi selatan, ada 10 desa yang masuk wilayah tersebut. Yaitu Sangup, Jemowo, Dragan, Lampar, Sumur, Karanganyar, Keposong, Sruni, Karangkendal, dan Lanjaran.
Hanya saja, hingga kini belum ada keputusan terkait lokasi kota kecamatan. Jika patokannya berada di jalur utama Musuk- Kabupaten Klaten, maka kota kecamatan bisa berada di Desa Karanganyar.
“Namun kalau tetap berada di tengah- tengah, kota kecamatan bisa berada di Desa Sumur atau Jemowo,” tambahnya.
Pihaknya optimis jika pemekaran terwujud, maka pembangunan bakal semakin maju dan merata. Apalagi, nanti hanya mengurusi 10 desa saja. Sementara selain Musuk, dua kecamatan juga akan dilakukan pemekaran, yaitu Wonosegoro dan Ampel.

Menjelang Kemarau 13 dari 20 Desa di Kecamatan Musuk Krisis Air Bersih

Written By Boyolalikita on Kamis, 28 Agustus 2014 | 17.48.00

Sebanyak 13 desa dari 20 desa di Kecamatan Musuk, Boyolali, saat ini sudah dalam kondisi krisis air bersih. Ke 13 desa, di antaranya Jemowo, Sangup, Mriyan, Sumur dan Lanjaran, kondisinya paling parah bila musim kemarau tiba. Tandon atau bak-bak penampungan air milik warga sudah habis.
dok.timlo.net/nanin
Dijelaskan Camat Musuk, Totok Eko YP, desa yang paling parah mengalami krisis air setiap musim kemarau, berada di atas atau di seputaran lereng Merapi. Di desa-desa tersebut, setiap musim kemarau, diakui selalu langganan krisis air bersih. Dulunya, warga desa menggunakan sumber air Wonopedhut. Namun sejak erupsi Merapi 2010 lalu, sumber air rusak.
“Sejak erupsi itu, sumber air Wonopedhut sudah tidak bisa dimanfaatkan warga, sehingga diatas sana sama sekali tidak ada sumber air, warga yang mampu terpaksa membeli air dalam tangki, sedangkan lainnya sangat mengandalkan bantuan droping air,” ungkap Totok ditemui saat menerima bantuan air dari Kelompok Gowes Soloraya, di kantor Kecamatan Musuk, Rabu (27/8).

Diakui, kebutuhan air bagi warga paling banyak digunakan untuk ternak mereka, sapi. Sedangkan kebutuhan untuk rumah tangga, seperti minum,memasak dan mandi, tidaklah begitu banyak.
“Kalau hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tandon air mereka masih bisa mencukupi, tapi untuk ternak ya tidak mencukupi,” imbuh Totok.
Di sisi lain, Kelompok Gowes Soloraya, hari ini, mulai membagikan 16 tangki air untuk tujuh desa di Kecamatan Musuk. Koordinator Gowes Soloraya, Luwarno, mengungkapkan bantuan air bersih bagi warga Musuk sebagai bentuk kepedulian anggotanya atas krisis air di musim kemarau ini.

Budaya : Sapi di Boyolali Ikut Lebaran

Written By Boyolalikita on Rabu, 06 Agustus 2014 | 18.55.00


Masyarakat setempat menamakan tradisi turun-temurun tersebut sebagai Lebaran Sapi. Waktunya bertepatan pada H+7 lebaran atau bagi masyarakat Jawa menamakannya dengan Syawalan. Di hari itu, sebelum digembalakan, ratusan sapi yang mayoritas adalah sapi perah tersebut juga mencicipi makanan khas Syawalan, Kupat. Selain sapi, hewan ternak lain seperti kambing juga ikut ambil bagian dalam perayaan. Dalam sehari tersebut, jalan di dukuh di kaki Merapi tersebut sejenak penuh dengan karnaval ternak.

Hadi Sutarno, tokoh masyarakat setempat mengungkapkan, muasal tradisi ini sudah berlangsung sejak dukuh Mlambong ada. Berdasarkan kearifan lokal warga setempat, tradisi tersebut adalah wujud syukur atas keberadaan sapi yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Maklum saja, dukuh setempat dikenal sebagai penghasil susu. Sedang Boyolali sendiri menempatkan sapi dan susu sebagai ikon wilayah.

Masih terkait tradisi tersebut, lanjutnya, di masyarakat setempat ada kepercayaan, pada hari ke tujuh lebaran, Nabi Sulaiman akan memeriksa sapi-sapi yang ada. Sehingga masyarakat mesti mempersiapkan sapinya dengan baik.

Tapi terlepas dari cerita tersebut, tradisi lebaran sapi ini dipertahankan masyarakat sebagai bentuk nguri-uri budaya leluhur. "Dari sapi dan hewan ternak lain, kami bisa menyambung hidup. Jadi tradisi ini bisa disebut sebagai penghargaan kami kepada peran sapi yang vital di kehidupan masyarakat sini," terang Suwarnu.

Aji (36) warga Manahan, Solo, yang khusus datang untuk menyaksikan perayaan tersebut mengatakan, tradisi Lebaran Sapi ini merupakan hal langka, dimana dalam sehari, pemilik ternak mengutamakan hewan ternaknya daripada dirinya sendiri. "Kearifan lokal seperti ini yang mesti dijaga agar tidak punah," tandasnya

Sapi ternyata punya hari istimewa. Di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali, sapi dimanjakan dalam sehari, Senin (4/8). Mereka dimandikan, diberi pakan istimewa, diberi wangi-wangian, dijemur, dan akhirnya diarak keliling dukuh.

Kr
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BOYOLALI KOMUNITAS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger