Rumah Terbalik Indonesia dikembangkan Gandung Sutriyono, pemuda 35 tahun asal Kelurahan Kemiri, Mojosongo, Boyolali. Dia menyulap lahan kosong berukuran 15 meter x 15 meter yang sebelumnya dimanfaatkan sebagai lahan parkir menjadi tempat yang lebih produktif.Latest Post
Gandung Sutriyono sang Desainer Rumah Terbalik Boyolali
Written By Boyolalikita on Minggu, 12 Februari 2017 | 19.46.00
Rumah Terbalik Indonesia dikembangkan Gandung Sutriyono, pemuda 35 tahun asal Kelurahan Kemiri, Mojosongo, Boyolali. Dia menyulap lahan kosong berukuran 15 meter x 15 meter yang sebelumnya dimanfaatkan sebagai lahan parkir menjadi tempat yang lebih produktif.Inilah daftar soto-soto enaak diboyolali
Written By Boyolalikita on Kamis, 17 November 2016 | 23.56.00


Inilah 7 Kuliner josss di Boyolali
![]() |
| daftar harga soto sedaap |
Inilah daftar Oleh-Oleh Khas Boyolali yang perlu Kamu Tau
Walau di Bandung, Menikmati Soto Boyolali untuk Makan Siang Cukup Rp 10.000
Written By Boyolalikita on Senin, 19 September 2016 | 18.23.00
Cukup merogoh kocek Rp 10 ribu, Anda bisa menikmati satu porsi soto Boyolali di Soto Sedap Boyolali Hj Widodo. Kedai soto dari Jawa Tengah tersebut bisa dikunjungi di Jalan Trunojoyo No 25 Bandung.Soto Mbok Giyem Boyolali berubah nama Menjadi Soto Segeer Hj Fatimah
Written By Boyolalikita on Rabu, 22 Juni 2016 | 20.47.00
Apa Beda Tahu Lontong dan Kupat Tahu Boyolali?
Written By Boyolalikita on Rabu, 25 Mei 2016 | 19.12.00
Makanan, Pengaruhi Perkembangan Buah Hati
Written By Boyolalikita on Selasa, 02 Juni 2015 | 02.10.00
SETIAP makhluk pasti akan menempuh proses pertumbuhan dan perkembangan. Jika pertumbuhan dapat kita ukur melalui alat lain halnya dengan perkembangan. Perkembangan biasanya tak dapat dihitung, melainkan terlihat dalam kehidupan nyatanya. Nah, salah satu faktor yang menjadi penentu perkembangan anak ialah makanan. Mengapa demikian?
Salah satu yang mempengaruhi perkembangan seseorang, khususnya buah hati ialah makanan. Makanan menjadi hal yang penting bagi perkembangan seseorang di usia muda. Bukan hanya makanannya, tetapi isinya yang cukup banyak mengandung gizi yang terdiri dari berbagai vitamin.
Vitamin inilah yang menjadi penguat perkembangan sang buah hati. Apabila kekurangan vitamin atau gizi yang baik, maka dapat menyebabkan gigi runtuh, penyakit kulit dan lain-lain.
Oleh sebab itulah, sebagai orang tua, kita harus memperhatikan pola makan sang buah hati. Jangan sampai, ia memakan makanan yang seharusnya tidak baik untuk dikonsumsi. Pola makan juga harus kita atur, dan biasakanlah agar anak melakukan hal itu.
Jika anak meminta untuk makan di luar, maka lihatlah apa yang dia inginkan itu. Perhatikan kandungan gizi dan vitaminnya. Apabila itu baik untuk anak, maka berikanlah. Namun sebaliknya, jika terlihat tidak baik untuk dikonsumsi, maka berikanlah pengertian kepada anak, dan tunjukkan makanan yang baik baginya
Geliat Potensi Wisata Ternak Sapi Perah Boyolali
Written By Boyolalikita on Minggu, 22 Maret 2015 | 20.11.00
Selain itu di daerah ini juga ada Kelompok Usaha Peternakan Terpadu (KUPT) Sido Maju, yang berperan aktif dalam usaha pemerahan susu sapi. Bahkan mereka juga bisa menjadi klaster pembibitan sapi perah.
Video Boyolali : Nasi Wiwit kuliner khas Boyolali
Cuma Rp 50.000, Bisa Perah Susu Sapi dan Bawa Pulang Susu Segar, Mau?
Written By Boyolalikita on Kamis, 12 Maret 2015 | 01.54.00
Graha Solo Raya Lantai 1
Jl. Slamet Riyadi No. 1 Solo, Jateng
Telp. 0271-5843678 atau 0271-2144388
HP. 085702686068
Fax. 0271 635936
www.solocitytravelguide.com
www.sinergievent.com
e-mail: sinergi_solo@yahoo.com
Marketing: www.solocitytravelguide.com
Peternak sapi perah di Boyolali mulai melakukan diversifikasi usaha. Tidak hanya produksi susu maupun mengembangkan produk olahan susu, namun merambah bisnis pariwisata. Salah satu warga di Dukuh Salam RT 004/RW 003, Desa Samiran, Selo, Boyolali, Suharmin, 68, memiliki empat ekor sapi perah di kandangnya.
Satu di antara empat ekor sapi milik Suharmin tersebut adalah sapi betina. Kandang peternakan Suharmin sangat sederhana dan masih sangat tradisional. Meskipun sudah berlantai permanen, namun kandang itu belum memiliki tempat khusus untuk pakan dan minum sapi.
Namun, di kandang sederhana itu Suharmin sering menerima kedatangan tamu-tamu dari luar kota bahkan turis asing dari Amerika Serikat dan Prancis yang penasaran dengan budidaya sapi perah dan produksi susu sapi.
Saat berbincang dengan Solopos akhir pekan lalu, Suharmin menunjukkan setumpuk kartu nama milik biro wisata dan guide personal yang pernah datang ke rumahnya mengantarkan wisatawan. Ada yang dari Solo, Jogja, Semarang, dan sekitarnya.
“Biasanya orang datang ke sini ingin lihat peternakan sapi yang ada di kampung-kampung. Tapi kebanyakan ingin melihat pemerahan susu,” kata Suharmin. Tak hanya melihat, kata dia, kebanyakan wisatawan juga ingin tahu cara memerah susu. Oleh karena itu, wisatawan yang datang biasanya akan “menyewa” sapi miliknya untuk diperah sendiri oleh wisatawan.
“Nanti hasilnya bisa dibawa pulang. Cukup beli eceran Rp5.000 per liter,” imbuh Suharmin.
Destinasi ini cukup menarik dan potensial dikembangkan, karena Desa Samiran sudah berkembang menjadi desa wisata. Namun, untuk mengembangkan destinasi wisata susu sapi perah ini rupanya tidak mudah. Wisatawan tidak bisa datang sewaktu-waktu jika ingin ikut memerah susu sapi.
“Kalau ingin ikut memerah sapi harus datang tepat di waktu pemerahan, yaitu 06.00 WIB hingga 07.00 WIB dan sore pada pukul 17.00 WIB. Itu adalah jam-jam yang diseragamkan untuk pemerahan susu sapi di desa kami,” kata Suharmin.
Sapi tidak bisa diperah di waktu sembarangan karena akan merusak kualitas susu yang diperah. Beruntung, di Desa Samiran mulai bermunculan home stay atau penginapan yang bisa dimanfaatkan wisatawan. “Kalau ingin lihat pemerahan pada pagi hari bisa menginap di home stay.”
Kebetulan lagi, sapi perah milik Suharmin ini tidak “bandel”. Sapinya mau diperah oleh siapapun meski bukan oleh Suharmin. Menurutnya, memang ada sapi perah yang tak mau diperah oleh selain pemiliknya.
“Jadi kalau wisatawan yang tidak bisa memerah, akan saya bimbing dulu. Saya siapkan dulu air hangat untuk membersihkan sapinya. Nanti saya langsung yang mengajari.” Setelah wisatawan memerah susu, sesegera mungkin susu itu direbus. “Di sini juga kami sediakan fasilitasnya. Mau langsung direbus, diberi gula, kami sediakan.”
Untuk destinasi wisata perah susu ini, sebenarnya Suharmin tidak memberikan tarif. Salah satu keuntungannya adalah susu sapi bisa langsung dibeli dengan harga eceran. “Tapi biasanya kalau wisatawan itu dibawa biro wisata, biasanya ada tarif Rp50.000/wisatawan. Itu untuk fasilitas yang kami berikan di sini.”
solopos







